Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Maret 2013
Kala Senja
Semburat merah dan jingga berarak menemani Siang pulang
Mengantar Siang menuju istirahatnya setelah seharian beraktivitas
Siang pun telah lelah, tak sabar untuk segera merebah
Semburat merah dan jingga tampak indah berlatar hampir gelap
Siang sayu menatap indah itu
Mencoba menggambar bayang Malamnya di sana
Rindu melesak
Berharap bertemu Malam sebelum dirinya lenyap
Memejam, mengecup manis Malam sepenuh hati
***
Semburat merah dan jingga telah menjadi tanda
Sesosok gelap yang tampak berkuasa sekaligus melindungi mulai menampakkan diri
Menjelang tugasnya, bergegas agar tak tertinggal
Semburat merah dan jingga yang indah itu membuatnya gugup
Malam tahu semburat itu tak akan lama
Malam mengejar berharap tak tertinggal
Tergopoh-gopoh Malam mengejar Siang yang beranjak pulang
Berharap belum terlambat bertemu Siang
Merengkuhnya dalam rindu, memagut menumpahkan segala hasrat
Jumat, 01 Maret 2013
Untukmu Ibu
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau memberi makan kucing dan aku belajar adalah hal yang baik berbuat baik pada binatang.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau membuat makanan kesukaanku dan aku belajar bahwa hal kecil dapat menjadi sesuatu yang spesial.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau berdoa, aku tahu bahwa ada Tuhan yang dapat selalu kuajak bicara dan aku belajar untuk percaya pada Nya.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau membuat makanan untuk orang lain, aku belajar bahwa kita harus peduli pada orang lain.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, kau memberi uang, tenaga, waktu, dan pikiran untuk menolong orang yang membutuhkan, aku belajar bahwa kita harus saling berbagi apa yang kita punya.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau menciumku, aku merasa dicintai dan aman.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau merawat rumah dan setiap orang di dalamnya, aku belajar kita harus menjaga apa yang diberikan kepada kita.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, saat kau menjalankan kewajibanmu, bahkan ketika kau merasa letih, aku belajar bahwa aku harus bertanggung jawab terhadap kewajibanku.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, aku tahu kau peduli, aku ingin mencapai apa saja yang dapat kuwujudkan.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, aku belajar banyak pelajaran hidup yang harus kutahu untuk dapat menjadi manusia yang baik.
Ketika kau berpikir aku tak memperhatikan, aku menatapmu dan ingin berkata,"Terima kasih untuk semua yang kuperhatikan ketika kau berpikir aku tak memperhatikan."
Kamis, 28 Februari 2013
Titipan-Nya
Sering kali aku berkata ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan-Nya
Bahwa rumahku hanya titipan-Nya
Bahwa hartaku hanya titipan-Nya
Tetapi mengapa aku tidak pernah bertanya
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka
Kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan
Seolah semua "DERITA" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti Matematika
Aku rajin beribadah
Maka selayaknyalah derita menjauh dariku
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku" dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti...
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
#WS Rendra
Rabu, 04 Januari 2012
Cinta Ran
Espresso dalam cangkir tampak berlebihan, namun tidak kali ini. Ran butuh doping untuk kuat... eh, ada juga sedikit perayaan. Ran memutar posisi menyandarkan punggungnya di balkon. Mengadah merasakan semilir angin awal hujan -- ah, gerimis.
Tidak dingin karena tangannya menggenggam cangkir espresso hangat, sedikit menjalar menghangati hatinya. Tarikan nafas diikuti seulas senyum berarti namun sulit ditafsirkan. Ran menyadari kesendiriannya. Di saat ini Ran benar-benar sendiri. Ran harus memulai esok dengan sendiri.
Hujan bertambah deras. Tiba-tiba Ran tersentak dalam kesendiriannya. Cangkirnya tak lagi hangat. Dingin menusuk hatinya. Ah, padahal Ran tahu tak baik membiarkan espresso-nya dingin.
Ran rindu kehangatan manusia, bukan espresso dalam cangkir. Ran teringat pulang.
Lama Ran mematung. Biarlah rindu itu ada. Ran bukan tak suka ditemani, Ran hanya sangat mencintai kebebasannya -- dalam kesendiriannya.
Jumat, 19 Agustus 2011
The Rumi's
Baik dalam kasih sayang atau kekejaman
Juga dalam kekafiran maupun persaksian
Kemanapun engkau tautkan hatimu pada sesuatu
KepekasaanNya akan merobekmu
Wahai, Hati!
Jangan taruh dirimu di sembarang tempat
Jangan taruh dirimu di sembarang tempat
Jangan!
#Jalaluddin Rumi
Rindu
tak ada keramaian
tak ada suara
tenggelam sendirian
dalam kesunyian diri
siapakah yang dapat kudatangi
yang dapat memecah sunyi ini?
***
tak dapat kukatakan apa yang kupikirkan
seolah tak punya kata-kata
bahkan lidah pun enggan mengucap
semua disimpan
tak tahu harus bagaimana
berharap menemukan
berlari mengejar
dan mendapatinya menungguku
merengkuhku dan kusandarkan bebanku
tanpa harus bercakap
kuuraikan semua dalam dekapannya
lewat hati yang bersatu
Suara Hati Seorang Kekasih
hanya namamu di hatiku
jiwa dan raga takkan berdusta
namun terkadang
cinta terusik benci sesaat
seribu musim takkan bisa
menghibur hati yang penuh marah
entah mengapa
berpisah saat mulai menjalin
suara hati seorang kekasih
bagai nyanyian surgawi
takkan berdusta
walau ketamakan merajai
diri yang penuh emosi
jauh di dasar hatiku
tetap ku mau
kau sebagai kasihku
#sebuah lirik yang dinyanyikan oleh Melly Goeslow
jiwa dan raga takkan berdusta
namun terkadang
cinta terusik benci sesaat
seribu musim takkan bisa
menghibur hati yang penuh marah
entah mengapa
berpisah saat mulai menjalin
suara hati seorang kekasih
bagai nyanyian surgawi
takkan berdusta
walau ketamakan merajai
diri yang penuh emosi
jauh di dasar hatiku
tetap ku mau
kau sebagai kasihku
#sebuah lirik yang dinyanyikan oleh Melly Goeslow
Langganan:
Postingan (Atom)




